TUGAS BAHASA INDONESIA kelas XI (Berkarya Membuat Cerpen Remaja)
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua.
Sebelum membaca cerpen ini, izinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu 😊
Nama : Alifia Sembada Anggianto
Kelas : XI MIPA 1
Asal Sekolah : SMAN 84 Jakarta
Jenis Cerpen : Cerpen Remaja, Cerpen Action-Thriller
Selamat membaca ☺️
ADALAH AKU, DAN KAREN
Namaku sering disebut untuk dijadikan sebagai protokol upacara
Jika dibilang ‘langganan’, mungkin iya
Jika ditanya ‘apa ga bosan ? ‘ tentu tidak
Aku bisa saja menolak, jika ada teman yang ingin mencoba
Dan kebetulan terjadi pagi ini, di pagi yang cerah ini
Senin, 20 Januari 2019 08:00
“Dewan guru dipersilahkan untuk meninggalkan lapangan upacara,”
“Itu yang lagi baca susunan upacaranya si Ani, kan?” tanyaku kepada teman di sebelahku
“Iya. Memang ada apa, Keth?”
“Eh, gak apa-apa kok.”
Oh iya, namaku Kethleen Gunawan. Biasa dipanggil Keth oleh temanku. Aku sekarang duduk di kelas 12. Masa-masa yang paling indah, memang. Banyak sekali kenangan dan cerita-cerita yang kulewati hari demi hari di sekolahku ini, SMA Cinta Bangsa.
Dulu memang aku sering ditunjuk untuk menjadi protokol upacara. Namun sekarang tidak, karena mulai hari ini aku adalah anggota Palang Merah Remaja lengkap dengan rompi biru navy yang melekat di depan kemeja putihku.
Namun tiba-tiba, aku mendengar suara asing di speaker...
“Semua diam di tempat! Jika kalian bergerak, kalian kami tembak. Letakkan handphone kalian di lantai! Dan jangan coba-coba untuk menelpon polisi!”
Suara itu diulang berkali-kali. Aku merasa ketakutan dan menutup kepalaku dengan rompiku sambil mendekap handphone diam-diam. Aku mengintip dari lubang kancing, bahwa ada sekelompok laki-laki bertopeng dengan persenjataan yang lengkap. Lalu, mereka memaksa murid-murid untuk masuk ke kelas satu per satu dan menguncinya. Tak lupa mereka mengambil handphone anak-anak itu, namun aku tak tahu apa tujuan mereka seperti itu.
Melihat murid-murid diperlakukan seperti itu, salah satu guruku, Bu Susi, berdiri menghadang mereka. Kudengar ibu guru berkata...
“Tolong... jangan kunci anak-anak kami. Beritahu saja apa kepentingan kalian kepada kami. Saya mohon jangan celakakan anak-anak kami... Lebih baik....”
Dorr!
Peluru menembus dada Bu Susi. Mereka dengan teganya meninggalkan Bu Susi dan melanjutkan mengunci kelas-kelas yang dipenuhi murid-murid itu. Mereka juga menyekap dan mengikat guru-guru.
Aku bersama temanku dengan sigap mencoba menekan luka dan mengeluarkan peluru ,namun gagal. Bu Susi pun menghembuskan nafas terakhirnya. Sebelum itu, beliau berbisik kepada kami,
“Nak, maafkan Ibu jika ada kesalahan dalam diri Ibu. Ibu hanya ingin berpesan kepada kalian. Jadilah anak-anak yang baik, dan berjuanglah dalam menyelamatkan sekolah kita yang sedang darurat ini.”
Tubuh kami pun bergetar. Air mata perlahan keluar dari mata kami.
Jum’at, 17 Januari 2019 14:00
“Simpan semua buku yang berhubungan dengan mata pelajaran Fisika,”
“Baik Bu Susi.”
“Dan kamu, Karen. Simpan handphone mu di dalam tas. Stop bermain game nya. Jangan-jangan, kamu tidak belajar untuk ulangan hari ini ya?”
“Maaf Bu, ulangan?”
Sontak semua temanku menertawakan Karen, gadis perempuan yang bisa dibilang anti-pelajaran, kecuali olahraga dan prakarya. Aku serta teman-temanku dan dia bagaikan air dan minyak, tidak bisa menyatu, sangat bertolak belakang sekali dengan kami yang ‘concern’ sama pelajaran-pelajaran di sekolah.
Aku terus menerus membolak-balikkan kertas ulanganku. Aku heran mengapa teman-temanku terlihat lancar dan baik-baik saja. Hmm, ternyata firasatku benar. Mereka menaruh contekan. Ada yang di meja, diatas papan jalan, dan di telapak tangannya.
“Anak-anak, kerjakan ulangan kalian dengan jujur. Jika kalian mengerjakannya dengan baik, maka hasilnya akan baik pula. Maka berperilakulah dengan baik, maka kalian akan terus diingat sebagai orang yang baik.”
“Iya Bu Susi.”
Jika didengar sekilas memang tidak ada yang aneh. Namun mengapa terasa seperti hanya aku yang merasakan keanehan pada apa yang Bu Susi bilang tadi. Ah, sudahlah, kan Bu Susi memang guru yang ramah dan penyayang.
16:00
Sore harinya, aku bersama teman-temanku pergi ke sebuah Cafe. Kulihat tidak jauh dari tempat duduk kami ada sekelompok laki-laki yang awalnya berbincang-bincang.
Kemudian, salah satu mereka menghampiri kami. Ia bertanya apa yang sedang kami lakukan disini dan menanyakan asal sekolah kami.
Sayangnya, salah satu teman kami, Lily, dengan polosnya menjawab pertanyaan laki-laki itu. Teman-temanku pun langsung memarahinya seketika setelah laki-laki dan kawannya itu pergi namun aku penasaran siapa mereka.
Senin, 20 Januari 2019 10:00
Aku terus berlari kesana-kemari mencari lokasi yang pas untuk menelpon polisi. Akhirnya aku menemukan tempat yang pas, yaitu di belakang taman sekolah kami. Dengan cepat aku memencet tombol dan memanggil polisi. Saat menunggu jawaban dari polisi...
“Ehem!”
Aku pun kaget dan ketakutan dengan suara itu. Segera kubatalkan panggilanku. Namun ternyata, orang itu adalah...
“Karen?!”
“Kau sedang apa disini? Menjauhlah dari tempat persembunyianku!” katanya sambil menodongkan pistol mirip dengan yang digunakan orang-orang itu.
“Da..darimana kau dapatkan itu???”
tanyaku
Namun, ia tidak menjawab pertanyaanku.
“Karen, untuk hari ini kau adalah temanku. Maukah kau membantuku?”
“Untuk apa aku membantu kau? Selama ini..”
“Hanya untuk hari ini. Tolong, Karen. Demi sekolah kami. Apa kau tak ingat pesan Bu Susi? Berperilakulah dengan baik, agar kalian terus diingat sebagai orang yang baik,”
“Iya, Kethleen yang cerewet.”
Meski kesal, aku tetap bersyukur ia masih ingin membantuku.
“Gunakan senjata ini. Disini ada gas air mata dan pistol. Tidak usah tanya padaku darimana kau mendapatkannya. Tetap berwaspadalah,” kata Karen
“Ada yang ingin kau sampaikan lagi?” tanyaku
“Jangan kau gunakan pistol ini untuk menghilangkan nyawa seseorang. Gunakan saja pistol ini untuk mengulur waktu dan menakut-nakutinya,”
“Apakah aku perlu menelpon polisi?” tanyaku
“Terserah kau. Aku sudah menelpon polisi jauh sebelum kamu datang kesini.”jawab Karen dengan nada keras. Memang itu ciri khasnya.
Ku mulai aksiku dengan menembakkan pistol ke arah atas sebagai manipulasi bahwa ada peristiwa tembak dan tertembak di lantai atas. Ketika mereka pergi ke atas, aku pun bergegas menuju kelas-kelas dan membebaskan murid-murid yang juga teman-temanku.
Di tengah kejadian itu, seseorang menahan salah satu tanganku. Aku pun menodongkan pistol kepadanya dengan tangan gemetar. Lalu, kawan-kawan orang itu datang.
“Mau pergi kemana kau, anak kecil?”
“Huahahaha! Apa yang kau bisa lakukan selain pasrah dan menyerah?”
Aku tidak tahan mendengarnya dan kusemprotkan gas air mata tepat ke arah orang-orang bertopeng itu. Aku yakin gas ini bisa menembus topengnya dan menghalau penglihatannya. Namun, hanya beberapa yang terkena gas ini dan sisanya terus mengejar dan menembakkiku.
Aku terus berlari kesana kemari, dan sial sekali!, aku baru ingat bahwa aku sampai di satu-satunya lorong sekolah yang buntu. Dengan satu-satunya pistol yang kubawa, aku todongkan ke arah mereka...
“Kumohon, jangan tembak aku...kumohon...”
Tak kusangka, Karen muncul dari atap sambil membawa batu bata seperti ingin melemparnya.
Dugh!!!
Batu bata itu ternyata hanya mengenai salah satu dari kelompok bertopeng itu. melihat itu, kawan-kawannya tak henti menembaki Karen, dan juga aku. Kami pun hanya bisa melindungi tubuh kami dengan sisa seng yang ada di pojok lorong.
“Seharusnya kalian termasuk anak-anak yang kami kunci di kelas tadi. Kalian tak perlu berlari-larian kesana kemari karena yaa kami tahu... bahwa kalian takut dengan kami, kan?”
Aku melihat muka Karen memerah. Untuk pertama kalinya ia seperti ini. Ia turun dari atap, berdiri di depanku. Aku pun memegang tangannya “Sudah Karen, jangan kau balas mereka, mungkin ini memang akhir dari hidup kita,”kataku dalam hati.
“Buat apa kami takut??? Menurut kami, sebagai murid yang terpelajar, seharusnya kau, kau, dan kau adalah yang menjadi penakut! Untuk apa kau berbuat seperti ini, menembak guru kesayangan kami, namun kau tetap menutupi mukamu dengan topeng itu.” jawab Karen dengan penuh amarah.
“Diam anak kecil! Atau aku akan...”lanjut laki-laki bertopeng itu.
“Sudah Karen...sudah”kataku sambil menangis.
“Anak kecil? Hah?! Hati-hati ya kalau berbicara. Dan kau ingin menembakku? Tembak saja aku! Lagipula, jika kau benar-benar menembakku, maka aku akan mati dikarenakan orang-orang pengecut seperti kau!”
Dorr!!!
Suara peluru itu seakan-akan hampir mengenai diriku. Aku menutup telingaku. Tak kusangka hari ini akan jadi seperti ini. Ingin rasanya aku keluar dari ‘mimpi buruk’ ini.
“Keth...jangan nangis terus Keth... Lihat, aku baik-baik saja kan?”
Aku pun terkejut dan langsung memeluknya. Jantungku yang sebelumnya berdegup kencang perlahan mulai stabil.
“Keth..terimaka....”
“Iya sama-sama. Itu kan maksudmu?”
Aku melihat polisi-polisi sudah datang dan mengamankan sekelompok laki-laki bertopeng itu, dan ternyata peluru itu ialah peluru yang menembus salah satu punggung laki-laki bertopeng itu. Mungkin itulah ganjaran yang sesuai dengan tertembaknya Bu Susi.
Para murid dan guru datang menghampiri kami. Polisi yang membebaskannya. Tak lupa teman-teman dan guru-guru memeluk kami dengan erat dan penuh haru.
Salah seorang murid bertanya, “Siapa pahlawan kami hari ini?”
Ya, mereka adalah aku, dan Karen.
.
.
Senin, 27 Januari 2019
Berangkat ke sekolah, memasuki kelas, tak lengkap rasanya jika tidak menyapa guru -guru dan teman-teman. Terkadang ku teringat kejadian itu, apalagi masih penasaran dengan tujuan sekelompok laki-laki bertopeng itu sehingga sekolah kami adalah sasarannya.
Tapi,ada satu hal yang bisa kupetik dari kejadian itu, ialah sahabat ‘baruku’, Karen.
Wah... 😁👍... Cerpennya ... Cerpen banget
BalasHapushanya kau, kau, dan kau yang comment pertama kali!!!
Hapus.
.
.
makasih yak aowkwk😁😁
Wihhh actionnya bagus nihh
BalasHapusterimakasih bu 😊
Hapus